Rabu, 28 November 2012

Pemanfaatan Corynebakterium Untuk Mengatasi Hawar Daun Bakteri


Cotrol Penggunaan Agens Hayati
  
Coryne Bakterium Merupakan bakteri Antagonis yang bermanfaat bagi perlindungan tanaman yang mengkolonisasi permukaan tanamam dengan mekanisme :
1.   Menghambat perkembangan penyakit (Bioprotektan ).
2.  Tular Daun  Bakteri Xanthomonas campestris pv.Oryzae. (kreseg),  HDB ( hawar daun bakteri )  pada tanaman Padi.
3.  Efektif juga mengendalikan: pustul bakteri, hawar bakteri, antraknose, bercak daun, karat daun, pada Hortikultura.

GEJALA PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI
Gejala dibedakan atas :
Kresek  /  Layu Daun
1.   Terjadi pada tanaman muda (umumnya muncul pada 1 – 6 minggu setelah tanam)
2.  Gejala awal  : tepi daun / bagian daun berupa garis bercak kebasahan.  Bercak selanjutnya meluas berwarna hijau keabuan,  seluruh daun menjadi keriput dan akhirnya layu seperti tersiram air panas.
3.   Gejala kresek merupakan gejala yang paling merusak.

 Kresek atau Layu  Daun

H a w a r
1.   Terjadi pada tanaman dewasa
2.  Gejala awal berupa bercak kebasahan pada satu atau kedua sisi daun beberapa cm dari ujung daun.  Bercak meluas berwarna hijau keabuan, kebasahan, daun menggulung, mengering dengan warna abu-abu keputihan.
3.   Luka nampak pertama kali seperti garis-garis yang mengandung air pada batas daun

 Hawar Daun

Operasional Pengendalian Penyakit ( Hawar Daun Bakteri )
PEMILIHAN LOKASI DAN WAKTU TANAM
- Informasi sebaran ras blas dan strain bakteri patogen (pemetaan)
 - Waktu kritis tidak pada waktu basah ( Lama pengembunan), puncak sebaran spora/bakteri
PENGGUNAAN VARIETAS TAHAN
- Informasi grouping varietas sesuai dengan ras blas/ strain bakteri
PENGGUNAAN BENIH SEHAT
- Perlakuan benih dengan kaporit/ air garam, benih tenggelam indikator sehat
POLA BERCOCOK TANAM INTERPLANTING
- Penanaman campuran varietas yang sifat geetik berbeda
PEMUPUKAN
- Penggunaan pupuk organik yang  matang ( KOMPOS FERMENTASI )
- Penggunaan pupuk berimbang
- Aplikasi pupuk K
Faktor-Faktor Yg Mempengaruhi Perkembangan Penyakit HDB
1.       Kelembaban tinggi
2.       Kondisi hujan disertai angin
3.       Pemberian N secara berlebihan

KEUNGGULAN AGENS ANTAGONIS Corynebacterium
  1. Corynebacterium mampu menghambat perkembangan patogen HDB sebesar 51 %
  2. Pertumbuhan agens relatif lebih cepat dari pada pertumbuhan patogenya, sehingga bakteri ini dapat menghambat munculnya gejala awal penyakit HDB dan selanjutnya menghambat perkembangan infeksinya
  3. Pada tanaman di lapang, efektifitas Cory ditunjukkan dengan penghambatan perkembangan gejala hawar daun dan tertekannya tingkat penularan antar anakan maupun antar rumpun
PENGENDALIAN PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI
Pratanam
  1. Sanitasi tanaman inang
  2. Pemilihan varietas tahan sesuai sebaran ras
Pesemaian
  1. Penggunaan benih sehat
  2. Sanitasi inang pada saluran irigasi
  3. Hindari penggenangan terlalu dalam
Tanaman Muda (Tanam – Anakan maksimum)
  1. Pemupukan berimbang sesuai anjuran setempat
  2. Sanitasi rerumputan sumber patogen
  3. Pengeringan lahan secara berkala, yaitu 1 hari diairi dan 3-4 hari dikeringkan, terutama pada daerah endemik serangan penyakit
Cara Pengendalian HDB / Kreseg dengan Bakteri Antagonis Corynebacterium sp. yaitu  saat
- Perlakuan benih (seed tratment) : Perendaman benih dengan suspensi bakteri antagonis 5 ml/liter
- Pesemaian :  Penyemprotan suspensi bakteri antagonis 5 - 10 ml/liter secara merata
- Pertanaman, dengan umur tanaman  :
14 hst :  5 – 10 ml/liter  volume semprot 500 liter / ha
28 hst :  5  - 10 ml/liter  volume semprot 500 liter / ha
42 hst :  5  - 10 ml/liter  volume semprot 500 liter / ha
Dosis 5 cc/lt (populasi 106 Cfu/ml), Volume 500 lt/ha; waktu perendaman benih, pesemaian dan pertanaman   ( 14 hst, 28 hst, 42 hst). Bagi rekan – rekan yang kesulitan kami menyediakan hasil pengembangan Corenynebakterium yang siap diaplikasi dengan harga murah Rp 40.000/lt 


 Isolat Murni Coryne Bacterium, sp
ppah bumi lestari ngawi

 Hasil Pengmbangan Corynebakterium
ppah bumilestari



Pusat Pelayana Agens Hayati

       

       Bumi Lestari Ngawi


Ingin melengkapi artikel ini? Silahkan tulis di kolom komentar. Karena keterbatasan waktu online, jika ingin bertanya seputar pertanian silahkan langsung SMS aja ke PPAH Bumi Lestari Ngawi di N0 (0351) 7073165 (SMS ONLY)





Senin, 26 November 2012

Stop Penggunaan Pestisida Kimia

Salam Tani.........!!!! 

 



Kecenderungan masyarakat terhadap penggunaan pestisida kimia dalam dunia pertanian masih tinggi yang berdampak terhadap lingkungan, Penggunaan pestisida yang berlebihan dapat merusak lingkungan dan keberadaan makluk hidup dialam sehingga ekosestem sudah tidak seimbang. Banyak cara yang bisa dipakai untuk mengatasi yaitu dengan menggunakan agens hayati ( Trichoderma, spp, Metarizium, Corinebacterium, Beauferia Basiana, spp dll dan dipadu dengan konsep PHT terbukti mampu mengatasi dan biaya produksi dapat ditekan sekecil mungkin, dan diperoleh hasil yang maksimal. Yang menjadi permasalahan dilapangan banyak petani yang kurang memahami konsep pertanian berbasis ramah lingkungan dan kencederungan penggunaan pestisida masih tinggi.

Pengendalian Hayati/Biologi
Peningkatan pembangunan pertanian diarahkan pada sistem pertanian berkelanjutan, dimana makna dari “berkelanjutan” adalah mengelola sumber daya yang ada sehingga dapat digunakan secara berkesinambungan serta meminimalisasi dampak negatif yang timbul. Dengan adanya pertanian berkelanjutan, maka penggunaan pestisida dapat secara teliti dan bertanggung jawab. Dalam pertanian berkelanjutan, petani harus belajar dan meninggalkan metode produksi yang memakai banyak bahan kimia. Memakai cara rotasi tanam, menanam kacangan dan rumput untuk mengisipersediaan N, merawat tanah dengan pupuk dan kompos, serta mendaur ulang bahan organik. Pendekatan ini akan melindungi tanah dan mencegah pencemaran dan pencucian pupuk/bahan kimia dari tanah ke aliran sungai. Dengan semakin ketatnya peraturan pemakaian bahan kimia, pengendalian hayati atau biokontrol merupakan salah satu strategi untuk mengatasi dampak pencemaran lingkungan akibat pemakaian bahan kimia untuk proteksi pertanian. Pengendalian suatu penyakit melalui biokontrol membutuhkan pengetahuan yang rinci mengenai interaksi patogen inang dan antara patogen dengan mikroba-mikroba sekitarnya. Pengetahuan ini sangat penting karena prinsip biokontrol adalah pengendalian dan bukan pemberantasan patogen.Keberhasilan suatu biokontrol ditentukan oleh kemampuan hidup agen biokontrol tersebut dalam lingkungannya. Salah satu agensia pengendalian hayati yang efektif yaitu jamur Trichoderma spp yang mempu menangkal pengaruh negatif jamur patogen pada tanaman kedelai (tanaman inang). Species Trichoderma harzianum dan Trichoderma viridae dapat mengendalikan aktifitas jamur patogen Rhizoctonia solanii yang memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan berkecambah biji kedelai dan pertumbuhan biomassa tanaman. Permasalahan bahan residu pestisida dapat juga diatasi dengan menggunakan metode Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang menggabungkan beberapa metode pengendalian, termasuk diantaranya menggunakan bahan hayati sebagai pengendali. Bagi lahan yang telah tercemar oleh residu pestisida, dewasa ini telah dikembangkan “Bioremediasi”. “Bioremediasi” dikenal sebagai usaha perbaikan tanah dan air permukaan dari residu pestisida atau senyawa rekalsitran lainnya dengan menggunakan jasa mikroorganisme. Mikroorganisme yang digunakan berasal dari tanah namun karena jumlahnya masih terbatas sehingga masih perlu pengkayaan serta pengaktifan yang tergantung pada tingkat rekalsitran senyawa yang dirombak




Pusat Pelayana Agens Hayati






 Bumi Lestari Ngawi




Ingin melengkapi artikel ini? Silahkan tulis di kolom komentar. Karena keterbatasan waktu online, jika ingin bertanya seputar pertanian silahkan langsung SMS aja ke PPAH Bumi Lestari Ngawi di N0 (0351) 7073165 (SMS ONLY)




            

Minggu, 18 November 2012

Cara Pembiakan Bakteri EM4



Cara Pembiakan Bakteri EM4 - Bagi rekan-rekan petani yang ingin menghemat biaya untuk pembelian EM4, rekan bisa mengembangbiakan bakteri tersebut sendiri di rumah, sehingga bila kebutuhan akan pupuk organik cukup banyak dikarenakan luas lahan yang besar maka akan segera terpenuhi tanpa biaya tambahan.


Sebenarnya cara pengembangbiakan bakteri ini cukup banyak cara yang bisa kita lakukan, dibawah ini saya coba 1 cara yang cukup mudah dan simpel untuk pengembangan bakteri EM4.

Sebelum ke tahap lebih lanjut silahkan rekan sediakan bahan untuk prakteknya diantaranya :
  • 1 liter bakteri yang akan diperbanyak
  • Siapkan sedikitnya 3 kg bekatul (jangan sampai kurang)
  • Siapkan ¼ kg gula merah bila tidak ada bisa pakai gula pasir atau tetes tebu, salah satu aja
  • Siapkan ¼ kg terasi
  • Siapkan 5 liter air
Setelah semua bahan diatas tersedia, kini rekan harus menyiapkan bahan untuk media pembiakan, diantaranya :
  • Ember plastik
  • Pengaduk atau centong
  • Panci untuk pemasak air
  • Botol plastik atau kaca penyimpan 
  • Siapkan Saringan dari kain atau kawat kasa
Bila bahan sudah semua terkumpul kini waktunya kita membuat adonan, rekan bisa memulai dengan poin- poin sebagai berikut :
  • Air yang  5 liter tadi dimasak sampai benar-benar mendidih.
  • Setelah air mendidih rekan bisa memasukkan terasi, bekatul dan gula, untuk yang memakai gula merah harus dihancurkan dulu sampai halus, lalu aduk adonan hingga rata.
  • Setelah adonan benar-benar rata lalu dinginkan sampai benar-benar dingin, bila tidak benar-benar dingin, adonan justru akan membunuh biang bakteri yang akan kita biakkan.
  • Bila sudah benar-benar dingin Mulai masukkan bakteri dan aduk adonan sampai benar-benar rata. Lalu ditutup rapat selama 2 hari dua malam.
  • Mulai hari ketiga tutup agak dilonggarkan dan diaduk rutin setiap hari sekitar 10 menit.
  • Bola sudah jadi yaitu sekitar 3-4 hari bakteri hasil pengembangan ini sudah bisa diambil dengan disaring memakai saringan, kemudian disimpan dalam botol yang sudah kita sediakan tadi, usahakan jangan ditutup terlalu rapat, atau biarkan saja botol terbuka, ini dimaksudkan agar bakteri tetap mendapatkan oksigen yang baik.
  • Tahap terakhir, botol bakteri tersebut siap untuk digunakan untuk membuat kompos atau pupuk cair maupun pupuk hijau.
Ampas hasil saringan jangan dibuang karena dapat kita gunakan lagi untuk membiakkan tahap selanjutnya, kita tinggal menyiapkan air kurang lebih 1 liter lalu menambahkan air matang dingin dan gula.
Itulah sedikit cara Mengembangbiakan Bakteri EM4 untuk sedikit menghemat biaya, selamat mencoba....!!!!!!!!!!